Beranda Berita Pemerintahan Politik Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Pendidikan Kampus Olahraga Teknologi Sains Kesehatan Wisata Budaya Sastra Hiburan Lifestyle Opini Editorial Foto Video Daerah Nasional Internasional

Ikhtiar, Harapan, dan Kehendak Allah: Pelajaran dari QS. An-Najm Ayat 24

ARUSMADURA — Manusia diciptakan dengan akal dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Setiap orang memiliki cita-cita, harapan, dan impian yang ingin diwujudkan melalui usaha yang sungguh-sungguh. Dalam Islam, memiliki cita-cita merupakan sesuatu yang dianjurkan selama diarahkan kepada kebaikan. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa tidak semua yang diinginkan manusia akan terwujud sesuai dengan kehendaknya, karena keputusan akhir berada di tangan Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:

«اَمْ لِلْاِنْسَانِ مَا تَمَنّٰىۖ

“Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?” (QS. An-Najm [53]: 24)»

ADVERTISEMENT
Advertisement
SCROLL TO RESUME CONTENT

Ayat ini mengandung pertanyaan yang sekaligus menjadi penegasan bahwa manusia tidak akan selalu memperoleh apa yang diinginkannya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini membantah anggapan bahwa setiap harapan manusia pasti akan tercapai. Segala sesuatu berada di bawah kehendak Allah Swt., yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Hal tersebut tidak berarti manusia boleh berpangku tangan atau meninggalkan ikhtiar. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar setiap muslim berusaha dengan sungguh-sungguh, karena ikhtiar merupakan bagian dari bentuk penghambaan kepada Allah. Akan tetapi, setelah seluruh usaha dilakukan, seorang mukmin harus menyadari bahwa hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah yang mengandung hikmah, baik yang dapat dipahami maupun yang masih menjadi rahasia-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang merasa kecewa ketika cita-citanya tidak tercapai. Padahal, boleh jadi kegagalan tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia diarahkan kepada jalan yang lebih baik. Sebaliknya, keberhasilan yang diraih pun tidak boleh melahirkan kesombongan, karena semua itu terjadi atas izin dan kehendak Allah Swt.

Oleh sebab itu, QS. An-Najm ayat 24 mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang mukmin diperintahkan untuk memiliki semangat dalam meraih cita-cita, tetapi tetap rendah hati dan menerima dengan lapang dada setiap keputusan Allah. Dengan demikian, harapan tidak berubah menjadi keputusasaan ketika gagal, dan keberhasilan tidak berubah menjadi kesombongan ketika tercapai.

Pada akhirnya, manusia hanya mampu merencanakan dan berusaha, sedangkan Allah Swt. adalah Dzat yang menentukan hasil terbaik bagi setiap hamba-Nya. Maka, cita-cita hendaknya selalu disertai dengan doa, tawakal, dan keridaan terhadap segala ketetapan-Nya. Sebab, apa yang Allah pilih untuk hamba-Nya adalah pilihan terbaik, meskipun tidak selalu sesuai dengan apa yang diinginkan manusia.

Referensi:

– Al-Qur’an Surah An-Najm ayat 24.

– Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.

Penulis : Candra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *