JAKARTA, arusmadura.com – Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam menjadi salah satu karya yang menarik perhatian karena mengangkat hubungan antara keislaman, spiritualitas, kepemimpinan, dan kiprah politik Prabowo Subianto.
Buku tersebut ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas, serta diterbitkan Atmosphere Publishing House. Buku ini pertama kali dicetak pada April 2025 dengan tebal xxii + 346 halaman dan ISBN 978-623-89676-5-0.
Buku itu kemudian diluncurkan secara resmi dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Penulisannya diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI Anwar Iskandar.
Bukan Mazhab atau Agama Baru
Meski menggunakan istilah “Islam ala Prabowo”, buku tersebut tidak membahas mazhab, aliran, maupun bentuk agama baru.
Istilah tersebut digunakan untuk membaca kehidupan dan kepemimpinan Prabowo Subianto melalui perspektif nilai-nilai Islam. Buku ini menempatkan ajaran agama sebagai nilai moral yang dapat tercermin dalam perilaku, kepemimpinan, kehidupan kebangsaan, hingga upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Buku tersebut juga tidak hanya menggunakan pendekatan biografi politik. Pembahasannya diarahkan pada tema-tema seperti agama, spiritualitas, moral, kepemimpinan, perdamaian, keadilan, kebangsaan, hubungan dengan dunia Islam, diplomasi, kesejahteraan rakyat, serta tanggung jawab seorang pemimpin.
Menghubungkan Islam dengan Kepemimpinan
Salah satu fokus pembahasan buku adalah hubungan antara nilai-nilai Islam dan kepemimpinan.
Dalam perspektif yang dibahas, amanah dalam Islam dikaitkan dengan bagaimana kekuasaan dijalankan. Keadilan dikaitkan dengan penegakan hukum, sementara zakat dan kepedulian sosial dikaitkan dengan perhatian terhadap masyarakat miskin.
Nilai perdamaian juga ditempatkan dalam konteks diplomasi dan upaya mengurangi konflik serta penderitaan.
Bahas Zakat dan Kesejahteraan
Buku ini turut mengangkat persoalan keumatan, termasuk zakat, kesejahteraan rakyat, dunia Islam, Palestina, dan diplomasi.
Pembahasan mengenai zakat ditempatkan tidak hanya sebagai ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Zakat disebut dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga penanggulangan kemiskinan.
Keterkaitan dengan persoalan keumatan tersebut juga menjadi salah satu konteks penting karena buku diluncurkan dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025.
Angkat Isu Palestina dan Dunia Islam
Persoalan Palestina juga menjadi bagian dari pembahasan buku.
Palestina ditempatkan dalam konteks kemanusiaan, keadilan, solidaritas, sejarah, dan keagamaan. Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan posisi Indonesia dalam hubungan dengan dunia Islam dan politik luar negeri.
Buku ini juga membahas gagasan bahwa Islam, demokrasi, nasionalisme, dan kemajemukan tidak harus dipertentangkan. Keislaman dan kebangsaan dipandang dapat berjalan berdampingan dalam konteks Indonesia.
Membaca Prabowo dari Perspektif Keislaman
Dengan pendekatan tersebut, Islam ala Prabowo berada di persimpangan antara biografi, agama, politik, kepemimpinan, sosial, dan kebangsaan.
Buku ini mencoba memberikan perspektif berbeda dalam membaca Prabowo. Jika sebelumnya sosok Prabowo banyak dibahas dari sisi militer, politik, ekonomi, pertahanan, pemilu, dan nasionalisme, buku ini menambahkan perspektif spiritual dan keislaman.
Namun, buku tersebut juga menyisakan ruang untuk pembacaan kritis. Materi mengenai spiritualitas dan moral seorang tokoh, misalnya, memiliki potensi subjektivitas karena niat batin seseorang tidak dapat diketahui hanya melalui perilaku yang terlihat. Selain itu, pertemuan antara agama dan politik juga memiliki kemungkinan menghadirkan persoalan politisasi agama.
Pada akhirnya, buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam berupaya membaca sosok Prabowo Subianto melalui tema keislaman, spiritualitas, kepemimpinan, perdamaian, diplomasi, dan kesejahteraan rakyat.
Istilah “Islam ala Prabowo” dalam buku tersebut bukan dimaksudkan sebagai mazhab atau bentuk Islam baru, melainkan sebagai label interpretatif untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam dibaca dalam kehidupan, karakter, pemikiran, dan kepemimpinan Prabowo.
Komentar Pembaca