SUMENEP, arusmadura.com – Kondisi infrastruktur jalan di Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, kembali menjadi sorotan. Hingga kini, sejumlah ruas jalan utama yang menghubungkan beberapa desa, termasuk jalur dari Desa Berakas menuju Desa Katopok dan arah Desa Karangnangka, dilaporkan masih mengalami kerusakan parah meski telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Kerusakan jalan tersebut dikeluhkan masyarakat karena dinilai menghambat aktivitas sehari-hari. Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai petani dan nelayan harus menghadapi medan jalan yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (3/6/2026), kondisi jalan tampak dipenuhi lubang, permukaan yang tidak rata, serta sejumlah titik yang berpotensi membahayakan pengguna jalan. Akibatnya, waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama dibandingkan kondisi normal.
“Kami seperti warga kelas dua. Hanya diingat saat pendataan pemilu atau jadi objek janji kampanye. Selebihnya, dibiarkan terisolasi,” ujar H. Fadri, salah satu tokoh masyarakat setempat, didampingi Sahawi.
Menurut H. Fadri, kondisi tersebut bertolak belakang dengan berbagai klaim pemerataan pembangunan yang selama ini disampaikan pemerintah. Ia menilai masyarakat Raas belum merasakan manfaat pembangunan infrastruktur secara merata.
“Puluhan tahun, jalan ini tak pernah berubah. Ke mana uang rakyat?” tanyanya tajam.
Senada dengan itu, warga berharap adanya perhatian lebih serius terhadap kondisi jalan yang menjadi akses utama masyarakat. Mereka menilai kerusakan jalan tidak hanya berdampak pada kenyamanan perjalanan, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan keselamatan pengguna jalan.
“Ini soal keadilan. Kami punya hak yang sama sebagai warga negara,” tambah Sahawi.
Masyarakat juga mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran pembangunan yang selama ini dialokasikan untuk daerah tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai rencana dan realisasi pembangunan infrastruktur di Kecamatan Raas.
Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) disebut pernah menyampaikan bahwa kondisi struktur tanah di wilayah Raas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jalan cepat mengalami kerusakan.
Namun, warga berharap persoalan tersebut dapat diatasi melalui perencanaan dan pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Hingga pertengahan tahun 2026, masyarakat mengaku masih menantikan langkah konkret pemerintah untuk memperbaiki akses jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga. Mereka berharap perbaikan tidak berhenti pada tahap survei, melainkan diwujudkan dalam pembangunan fisik yang mampu memberikan manfaat jangka panjang.
“Janji silih berganti, jalan tetap hancur. Cukup sudah,” pungkas H. Fadri.
Penulis : Frn
Editor : Btm
